Single post

TOKOH MISI: WILLIAM CAREY

William Carey dilahirkan pada tahun 1761 di dekat Northampton, Inggris. Keluarganya memeluk kekristenan secara formal tanpa ada sentuhan spiritualitas termasuk hubungan pribadi dengan Tuhan. Pada usia 14 tahun dia meninggalkan rumah dan magang pada seorang tukang sepatu sehingga setelah menyerahkan diri kepada panggilan Tuhan, dia dikenal sebagai Carey si tukang sepatu.

Dia mendengar Injil untuk pertama kalinya di sebuah desa kecil Hackleton. Tetapi baru setahun kemudian, dia menyerahkan hidupnya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya. Carey bergabung dengan gerakan Particular atau Calvinistic Baptists. Di dalam gerakan ini ada pertikaian teologis mengenai pemberitaan Injil kepada bangsa bukan pilihan. Mereka yang menolak pemberitaan Injil mengatakan bahwa gereja tidak mempunyai hak untuk memberitakan Injil karena Tuhan Yesus hanya mati bagi umat pilihan. Karena itu penginjilan dan misi itu mencurigakan.

Tetapi Carey tidak menyetujui pandangan ini. Dasar dari ketidaksetujuannya adalah sebuah karya Hall yang berjudul “Helps to Zion’s Travellers.” Hall menyatakan bahwa Allah itu berdaulat dalam keselamatan, Gereja wajib memberitakan keselamatan itu, dan manusia yang berdosa wajib meresponinya.

Dia menjadi marah terhadap ketidakacuhan kekristenan terhadap mereka yang terhilang di seluruh dunia. Saat itu, pada tahun 1790, ada sekitar 174 juta dari 734 juta (sekitar 24%) dari penduduk dunia mengaku diri sebagai Kristen. Tetapi gereja Kristen hanya melakukan sedikit usaha untuk menjangkau 76% yang belum percaya.

Sepanjang tahun 1780-an, kerinduannya akan misi global ditumbuhkan oleh program doa dalam persekutuan pendeta. Dia juga dipengaruhi oleh ajakan Jonathan Edwards yang mengajak agar seluruh Gereja di dunia secara rutin berdoa bagi penggenapan Amanat Agungn. Sementara berdoa, Carey mengambil langkah praktis. Ia memenuhi dinding rumahnya dengan peta dan statistic. Ia mengumpulkan bahan-bahan bagi sebuah buklet yang berisi desakan bagi gereja untuk berlutut mendoakan hal ini dan mengirim para misionaris ke wilayah-wilayah terpencil. Buklet ini akhirnya menjadi katalisator bagi misi yang melampaui mimpi Carey.

Pada tahun 1793, Carey berangkat bersama istrinya, Dorothy ke India. Tahun pertamanya di India sangatlah sulit. Mereka kehabisan dana dan pemerintahan Inggris di India menentang kegiatan misi. Kondisi istrinya makin memburuk dan akhirnya mengalami kegilaan total.

Tahun 1798, dia menyelesaikan sebagian penerjemahan Alkitab dalam bahasa Bengali. Penerjemahan ini akhirnya selesai tahun 1809. Sampai tahun 1824, Carey telah menerjemahkan dan menerbitkan Alkitab ke dalam 37 bahasa lainnya. Dia juga mendirikan penerbitan dan sekolah untuk para tunaaksara. Dia berusaha mempengaruhi masyarakat agar tidak lagi mengurbankan bayi dan berjuang untuk mendirikan rumah sakit bagi penderita lepra. Carey terus berusaha untuk memperbaiki kondisi kehidupan di India.

Beberapa fase pelayanan dan kehidupannya sangatlah sulit sehingga ia pernah merasa telah kehilangan hal-hal berharga dalam hidupnya dan berputus asa dengan orang-orang yang dianggapnya akan mendukungnya. Namun, hasil dari perjuangan dan pelayanannya tidak pernah lenyap di tengah jalan.

Selain berbagai terjemahan Alkitabnya, Carey merupakan tokoh yang menghasilkan tujuh prinsip yang menjadi dasar bagi gerakan misi Protestan. Ketujuh prinsip tersebut adalah:

  1. Misi yang efektif didasarkan pada teologi yang alkitabiah sehingga menghasilkan doa sekaligus tindakan.
  2. Misi yang efektif dijalankan melalui perantaraan lembaga pendukung gereja yang memiliki komitmen terhadap Firman Allah.
  3. Misi yang efektif berpusatkan pada penerjemahan dan penyebaran Firman Allah.
  4. Misi yang efektif didukung oleh suatu kesatuan di antara orang-orang percaya.
  5. Misi yang efektif bergantung pada gereja-gereja lokal dan para pemimpin pribumi yang telah dimuridkan.
  6. Misi yang efektif menunjukkan suatu kepekaan budaya yang sejalan dengan Firman Allah.
  7. Misi yang efektif bersumber dari cara hidup yang berpola Firman Allah.

Mungkin dunia ini nampak semakin menyempit karena berbagai teknologi dan transportasi, telepon genggam, e-mail, dan voicemail. Namun, dunia tidak pernah terlalu sempit untuk misi. Dunia masih cukup luas untuk dilayani oleh William Carey abad ke-21 yang melayani kehidupan manusia secara menyeluruh, spiritual, fisik, dan sosial. Dunia masih sangat membutuhkan William Carey yang berdoa, memberitakan Injil, menerjemahkan Alkitab, dan memperbaiki kehidupan masyarakat. Mungkinkah William Carey abad ke-21 itu ada di antara kita yang membaca artikel ini?

(Disadur dari buku “Sepuluh Pemikiran Gereja”; Mark Shaw; Surabaya: Momentum, 2003)

Share

LEAVE A COMMENT

design by Jasa Web Desain