Tujuan Bekerja

May 10
2010

Manusia adalah manusia yang bekerja. Bekerja sudah melekat dalam diri manusia sejak ia diciptakan. Sebelum jatuh dalam dosa, Adam sudah mendapatkan mandat untuk bekerja dari Allah sendiri, yaitu “mengurus ikan-ikan, burung-burung, dan semua binatang lain yang liar” (Kej. 1:28). Dan Adam juga sudah melakukan mandat ini. Hanya saja, setelah jatuh dalam dosa, pekerjaan itu lebih susah, berpeluh, dan kadang tidak menghasilkan seperti yang diharapkan.

Ada orang yang bekerja untuk menyambung nyawa dari sehari ke sehari. Bagi mereka, tidak bekerja sehari berarti tidak bisa makan sehari. Bisa dibayangkan susahnya hidup mereka jika mereka sakit selama berhari-hari. Sementara bagi orang lainnya, bekerja berarti mengejar kekayaan. Mereka mungkin belum kaya atau sudah kaya, tetapi ingin mendapatkan lebih banyak uang. Ada yang bekerja untuk melayani orang lain. Ini terutama mereka yang berjiwa sosial. Ada yang bekerja sebagai perwujudan hobi. Asal batin puas, cukuplah sudah.

Memang dengan bekerja kita akan mendapatkan uang. Dengan bekerja kita akan bisa mengembangkan diri dan menggunakan segenap kemampuan yang telah Allah berikan. Dengan bekerja kita bisa mendapatkan kepuasan batin. Tetapi ini semua berpusatkan pada aku, aku, dan aku. Si aku bukanlah tujuan utama dan akhir dari bekerja.


Lalu apa tujuan bekerja bagi orang percaya? Alkitab tidak pernah mengajar kita untuk hidup bagi diri sendiri (Fil. 2:4; Mat. 22:39). Bahkan Alkitab menentang perbuatan memperkaya diri sendiri atau keinginan menjadi kaya termasuk kaya secara cepat (1 Tim 6:8-10). Maka kita tidak diajar untuk bekerja demi gaji (tinggi) atau perolehan kekayaan apalagi mengorbankan nilai-nilai.

Maka jika dalam suatu wawancara kita ditanya berapa gaji yang ingin kita peroleh, kita bisa menjawab, “Saya tidak bekerja untuk gaji. Saya akan bekerja sebaik mungkin demi perusahaan ini supaya perusahaan ini menyejahterakan banyak orang.” Kita juga tidak gelisah jika gaji kita tidak naik-naik karena kita tidak bekerja karena gaji.

Tujuan bekerja adalah demi kesejahteraan sesama manusia dan mengelola alam sebagai pengurus yang telah dipercaya Allah. Sejak mandat kerja diberikan kepada Adam, Allah menyuruh manusia untuk mengurus bumi ini dan memanfaatkannya sebaik-baiknya bagi kesejahteraan manusia dan seisi bumi. Manusia tidak boleh merusak alam. Manusia tidak boleh menggunakan segala cara untuk memenuhi ambisi dan menambah pundi-pundi emasnya. Dengan bekerja, manusia melayani Allah, sesama manusia, dan alam semesta.

Diharapkan dengan mengurus alam sebaik-baiknya, manusia bisa melihat kemuliaan Allah yang telah ditempatkan di dalam alam semesta. Allah menciptakan alam seperti cermin untuk melihat kebesaran, kekudusan, dan keindahan Allah (Mzm. 8). Merusak alam berarti merusak cermin itu.

Sehingga tujuan akhir dari bekerja adalah memuliakan nama Allah melalui pekerjaan itu. Memuliakan Allah melalui menyejahterakan sesama manusia. Memuliakan Allah melalui mengurus alam semesta. Orang yang bekerja dalam bidang seni, dalam segala bentuknya, berusaha membuat orang lain yang menikmati seni itu melihat kemuliaan Allah. Orang yang bekerja dalam bidang bahasa, membuat karya-karya tulis yang membuat orang bisa memahami kemuliaan Allah. Orang yang bekerja di bidang ekonomi, memampukan pengelolaan sumber daya dan pemanfaatannya untuk memuliakan Allah. Ini semua terdengar idealis, tetapi orang Kristen memang dituntut untuk menjadi berbeda dengan dunia dan melakukan apa yang dianggap ideal oleh Allah.

  • Share/Bookmark