(Sebelum membaca artikel ini, lebih baik bacalah dulu Mengetahui Tujuan Hidup dan Ringkasan Tujuan Hidup)
Sementara tujuan hidup bersifat umum dan sudah kita ketahui dengan pasti, panggilan hidup bersifat unik, khusus untuk setiap kita, dan harus dicari. Tujuan hidup seluruh ciptaan adalah untuk kemuliaan Allah. Panggilan hidup adalah apa yang ingin Allah kerjakan melalui hidup kita untuk mencapai kemuliaan-Nya sendiri.
Sementara mencari panggilan hidup, kita telah mengetahui tujuan hidup kita. Jadi kita perlu mengarahkan seluruh hidup kita sekarang, selagi mencari panggilan hidup, untuk memuliakan Allah. Kita tidak perlu menunggu hingga menemukan panggilan hidup. Kita perlu mengerjakan apa yang bisa dikerjakan. Kita perlu hidup secara maksimal yaitu terus menggali, melatih, memperlengkapi, dan menggunakan seluruh kemampuan yang Allah berikan kepada kita. Kita perlu menggunakan waktu semaksimal mungkin untuk hal-hal positif misalnya membaca buku (selain komik), berlatih alat musik, berdiskusi, menyelidiki Firman Allah, berdoa, mengikuti pelayanan di gereja, menulis, dan lain-lain.
Panggilan hidup sering dikaitkan dengan pekerjaan dan peranan kita di dalam komunitas kita. Ini berarti semua pekerjaan dan peranan, bukan hanya pekerjaan dan peranan sebagai hamba Allah sepenuh waktu. Tetapi panggilan hidup itu perlu semakin tajam dan khusus. Kita tidak bekerja di semua bidang dan memiliki peranan di dalam segala hal sekalipun nilainya sama di hadapan Allah. Kita tidak meninju ke segala arah, tetapi memukulkan tinju sesuai panggilan kita.
Kita disuruh memakai hikmat dalam menjalani kehidupan ini termasuk mencari panggilan hidup. Hikmat berarti pemakaian akal sehat. Pencarian ini lebih bersifat proses daripada instan. Artinya kita sebaiknya tidak menetapkan satu jalan saja yang instan untuk mendapatkan panggilan hidup, misalnya melalui suara Allah atau mimpi. Karena itu perlu ada perenungan dan penggalian terus-menerus apa yang menjadi panggilan hidup kita.
Untuk mempermudah penemuan itu, ada beberapa aspek yang akan membimbing. Pertama, pikirkan batasan-batasan dalam mencari panggilan hidup. Kedua, pikirkan nilai-nilai hidup. Ketiga, temukan dan pikirkan karunia dan kemampuan alami yang Allah berikan kepada kita. Keempat, temukan minat dan kebutuhan yang menggerakkan kita. Kelima, temukan apa mimpi kita. Keenam, mencoba menulis panggilan hidup, mengevaluasi, dan merevisinya seiring berjalannya waktu.

Pertama tentang batasan-batasan panggilan hidup. Batasan-batasan itu ada di dalam Alkitab. Semua perintah dan larangan yang ada di dalam Alkitab, seperti Hukum Taurat, Khotbah di Bukit, dan lain-lain, menjadi penuntun untuk menentukan panggilan hidup. Artinya pekerjaan dan peranan yang bertentangan dengan Alkitab, pasti bukan panggilan hidup. Panggilan Gereja yaitu Amanat Agung dan Amanat Budaya juga menjadi batasan lainnya. Amanat Agung berarti memberitakan Kabar Baik/Misi. Amanat Budaya berarti menjalankan fungsi sebagai garam dan terang yaitu memengaruhi lingkungannya dengan nilai-nilai kekristenan dalam semua aspek hidup. Sebagai orang percaya, kita menjadi bagian dari Gereja yang lebih luas, sehingga panggilan Gereja juga menjadi panggilan kita.
Karena panggilan hidup sering berkaitan dengan pekerjaan, maka kita perlu mempertimbangkan prinsip ekonomi Kristen yang meliputi tujuan bekerja, prinsip bekerja, uang dan kekayaan, serta gaya hidup Kristen. Intinya adalah bahwa apa yang kita kerjakan harus mendatangkan kemuliaan bagi Allah dan kesejahteraan sesama. Kita tidak hanya mengejar kekayaan untuk diri sendiri. Panggilan hidup bukan tentang diri sendiri dan perwujudan ambisi pribadi. Panggilan hidup bukan pengejaran kekayaan, popularitas, kesenangan pribadi, dan kesuksesan semata.
Kedua, kita perlu mempertimbangkan nilai-nilai yang kita miliki. Nilai-nilai adalah apa yang kita pentingkan dalam hidup ini. Nilai-nilai hidup tentu bersumber dari Alkitab. Contoh nilai-nilai hidup antara lain kejujuran, keadilan, kebenaran, keluarga, memberi, melakukan yang terbaik, menjadi saksi, membawa pengaruh positif bagi lingkungan, dan lain-lain. Nilai-nilai ini juga bisa menjadi batasan dan memberi arah pada panggilan hidup supaya ketika menentukan panggilan itu kita tidak menyimpang.
Ketiga, menemukan karunia rohani dan kemampuan alami (bakat). Ketika Allah menciptakan kita, Dia memiliki tujuan untuk setiap kita, dan Dia memperlengkapi setiap kita untuk mencapai tujuan itu. Dengan kata lain mengetahui perlengkapan itu berarti mengetahui ke arah mana Allah memanggil kita. Perlengkapan itu ialah karunia rohani dan bakat. Kemampuan alami diberikan kepada semua orang sejak dalam kandungan ibunya. Sedangkan karunia rohani diberikan pada saat seseorang percaya kepada Tuhan Yesus. Setiap orang percaya pasti diberi karunia rohani setidaknya satu.
Keempat, mengetahui apa yang menggerakkan kita. Ini bicara tentang minat dan kebutuhan (sekitar). Orang yang punya kemampuan tetapi tidak punya minat sulit mencapai hasil maksimum. Minat menggerakkan seseorang. Minat itu bisa membuat seseorang berjuang untuk mendapatkan apa yang diingininya. Tetapi ada juga orang yang semula tidak berminat kemudian menjadi berminat karena melihat kebutuhan orang-orang di sekitarnya. Misalnya, seseorang menemukan anak-anak berkebutuhan khusus yang tidak diperhatikan. Karena kebutuhan akan orang yang memerhatikan mereka, maka orang itu mulai melayani anak-anak tersebut. Lama-kelamaan muncullah minat untuk melakukan hal itu sebagai panggilan hidupnya. Jadi menelusuri apa yang menggairahkan kita bisa menjadi salah satu petunjuk menemukan panggilan hidup.
Kelima, mempertimbangkan mimpi-mimpi kita. Mimpi berkaitan dengan apa yang ada dalam keinginan-keinginan Anda yang terdalam, yang Anda rindukan dan usahakan untuk terwujud. Itu bisa berupa keadaan, peristiwa, dan pekerjaan. Agar khayalan tersebut tidak melayang ke mana-mana, maka nilai-nilai hidup akan menuntunnya. Jika memang impian itu dari Allah, maka sasarannya adalah kemuliaan Allah dan tidak akan mati oleh waktu. Pertanyaan-pertanyaan berikut akan menolong mengetahui mimpi-mimpi Anda: Peristiwa apa di masa depan yang membuat Anda bergairah? Keadaan seperti apa yang ingin terwujud di masa depan? Jika Anda berada di masa depan, apa yang sedang Anda lakukan?
Keenam, mencoba menulis panggilan hidup. Dibutuhkan waktu khusus untuk merenungkan apa panggilan hidup kita. Memulai merenungkan panggilan hidup di usia remaja akan semakin baik. Karena kita akan lebih bisa mengarahkan hidup kita untuk mencapai panggilan itu. Tetapi ini semua adalah proses, yang butuh waktu bertahun-tahun. Sambil menjalani proses itu, alangkah baik jika kita mulai menuliskan pernyataan awal tentang panggilan hidup kita. Pernyataan itu bisa berupa kalimat atau paragraf atau poin-poin.
Setelah itu ambillah waktu setiap jam seminggu dan mungkin sehari setiap tahun untuk mengevaluasi apakah hidup saya selama seminggu dan setahun itu sudah mengarah pada pernyataan panggilan yang saya buat. Dalam evaluasi itu mungkin ada revisi atau tambahan atau pengurangan untuk pernyataan panggilan itu.
Berbicara kepada teman, saudara, dan kakak rohani akan menolong kita juga untuk mempertajam panggilan hidup kita dan mengevaluasi arahnya. Mungkin kita butuh seseorang di mana kita memberikan pertanggungjawaban atas panggilan hidup kita dan bagaimana kita menjalani hidup sehari-hari untuk mencapai panggilan itu.
(Untuk memulai proses pencarian panggilan hidup silakan kerjakan worksheet mencari panggilan hidup)
Comment