Penginjil Efektif : Wanita Samaria

Jul 19
2010


Cerita tentang wanita Samaria telah menjadi cerita yang legendaris. Dari sudut pandang misi, wanita Samaria ini juga menjadi pelajaran yang berguna. Setelah mengenal siapa Tuhan Yesus sebenarnya dan percaya kepada-Nya sebagai Mesias, dia segera memberitakan tentang Yesus kepada orang-orang sekampungnya, dan mereka menjadi percaya. Wanita ini tidak perlu menunggu selama bertahun-tahun untuk memberitakan Injil. Pada hari dia terbuka siapa Tuhan Yesus sebenarnya, hari itu juga dia lari ke kampungnya untuk menceritakan pengalamannya bersama Yesus.

Dia juga tidak menunggu sampai lulus kelas pemuridan. Kelas-kelas pemuridan sangatlah berguna, tetapi kalau menunggu kelas pemuridan selesai untuk memberitakan Injil, maka terlambat dan salah kaprah. Orang yang tidak memberitakan Injil selama kelas pemuridan jarang sekali memberitakan Injil setelah dia lulus. Menurut penelitian, orang yang paling efektif dalam memberitakan Injil adalah orang yang baru percaya.

Orang yang sudah lama menjadi Kristen sering menjadi orang yang sangat tidak efektif dalam memberitakan Injil. Ada hamba Tuhan, yang sebelum masuk sekolah Alkitab, begitu menggebu-gebu. Dia masuk sekolah Alkitab dengan motivasi ingin menjadi penginjil yang baik dan siap dikirim ke mana saja. Namun begitu lulus, dia tidak lagi ingin menjadi penginjil dan tidak lagi mau dikirim ke mana saja, kecuali ke kota besar. Akhirnya dia sama sekali tidak pernah memberitakan Injil secara pribadi.

Sang wanita Samaria memberitakan Injil di dalam kesederhanaan, dengan apa yang dimiliki, dan dalam pengetahuannya yang terbatas. Seorang tukang sayur, tukang pijat, tukang becak, guru, dokter, pelajar, mahasiswa, dan lain-lain, bisa menginjili rekan-rekan mereka tanpa perlu perlu menunggu sampai dirinya menjadi sempurna. Kita lihat, wanita ini sangat tidak memenuhi syarat di hadapan manusia. Dia punya latar belakang dan nama yang sangat buruk. Tetapi dia tidak menunggu sampai namanya jadi baik kembali atau dikenal.

Tidak perlu menunggu bukan berarti tidak ada perubahan hidup. Biasanya seseorang yang percaya kepada Tuhan Yesus, hidupnya berubah. Namun, perubahan yang dimaksud di sini bukanlah perubahan yang sempurna, tetapi perubahan alami yang bisa dilihat orang. Menjadi percaya kepada Kristus adalah perubahan hidup yang cukup untuk membuka mulut kita. Perubahan hidup harus disertai dengan membuka mulut untuk memberitakan Injil. Keduanya adalah kombinasi yang penting. Tidak cukup perubahan hidup saja. Tetapi juga tidak cukup membuka mulut saja.

Ada orang-orang yang berkata bahwa perubahan hidup saja sudah cukup. Nanti orang akan melihat dan percaya kepada Kristus dengan sendirinya. Ini tidaklah cukup. Perubahan hidup penting. Tetapi membuka mulut juga sangat penting. Kalau hanya perubahan hidup, itu seperti memakai baju bagus dan baru. Kemudian orang ingin membeli baju itu, tapi kita tidak mau memberi tahu di mana membeli baju baru dan bagus itu. Mereka tentu tidak bisa membeli baju itu karena tidak tahu di mana membelinya. Bagaimana orang bisa mengerti tentang Yesus kalau kita tidak membuka mulut? Kalau mereka perlu mendengar tentang Yesus, maka kita perlu membuka mulut. Promosi yang paling efektif, sebagaimana memberitakan Injil, adalah menggunakan metode MLM, yaitu Marketing (pemasaran) Lewat Mulut.

Buka mulut dan jangan menunggu. Kita berlomba dengan waktu. Kalau berpikir bahwa kita perlu menunggu sampai hidup ini sempurna, maka kita akan terlambat. Kalau kita menutup mulut tidak mau bercerita tentang Yesus, maka kita akan terlambat. Waktu kita tidak banyak. Hidup kita tidak akan sempurna. Tugas kita tidak pernah berakhir untuk memberitakan Injil.

Suatu hari, di hadapan takhta Allah, ratusan orang yang aku kenal

Memandang aku dengan tatapan sedih, marah, kecewa,

Ada sedikit air mata, tetapi juga geram,

Aku tidak berani menatap wajah mereka…

Aku tertunduk, sedih, malu, dan menyesal

Aku mencoba untuk segera beranjak dari tempat itu

Untuk menikmati masa-masa bahagia aku

Tetapi tiba-tiba sebuah suara lirih membuat langkahku terhenti

“Mengapa, mengapa?”

Aku melihat wajah orang yang berbicara,

Dia orang yang kukenal di kampusku dulu,

Rendy, temanku…

“Mengapa, mengapa, engkau tidak pernah mengatakannya?

Mengapa engkau selalu menutup mulutmu?

Mengapa kaubiarkan aku binasa?”

Aku menatapnya, lidah terasa kelu

Ingin rasanya berkata, “Maafkan aku,” memeluk dan menariknya ke sisiku

Tapi jurang yang dalam, luas memisahkan kami,

Sekarang tidak ada satu katapun yang bisa mengubah keadaan.

Aku di sini…

Dia di sana…

Terpisah…

Hanya karena aku dulu tidak membuka mulutku.

  • Share/Bookmark

Leave a Reply