Single post

Pelajaran dari Kitab Imamat (7)

Aspek-aspek Kasih

Ketika membaca kitab Imamat, kita mungkin merasa aturan-aturan di dalamnya begitu berat. Kaku. Dingin. Tanpa kasih. Padahal, di dalamnya ada cerminan kasih, baik kasih Allah kepada manusia maupun kasih kepada sesama. Berikut ini aspek-aspek kasih yang ada dalam kitab Imamat.

1. Pengampunan yang ditawarkan lewat persembahan kurban itu sendiri merupakan cerminan kasih Allah. Keadilan Allah menuntut Dia menghukum dosa. Tetapi kasih Allah menuntut Allah mengampuni dosa. Bagaimana agar keadilan dan kasih Allah ini bisa bertemu dan dipuaskan? Melalui kurban. Kurban itu harus mati sebagai ganti kematian orang yang berdosa untuk memuaskan keadilan Allah. Tetapi akibatnya, orang yang mempersembahkan kurban diampuni sehingga kasih Allah juga dipenuhi.

2. Orang miskin yang melakukan dosa juga harus mempersembahkan kurban. Tetapi mereka tidak dituntut untuk mempersembahkan kurban yang di luar kemampuan mereka. Mereka dapat mengganti domba atau kambing dengan sepasang burung tekukur atau merpati muda yang tentu harganya jauh lebih murah. Kalaupun orang itu masih tidak mampu membeli burung tersebut, mereka bisa memberikan satu kilogram tepung (5:7-13).

3. Ada sebuah ayat yang dikutip oleh Tuhan Yesus, dan kemudian menjadi ayat yang terkenal, seolah-olah itu suatu ajaran baru, yaitu: “kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Ayat ini ditulis dalam Imamat 19:18, yang kemudian dikutip oleh Yesus ketika ditanyai tentang hukum yang terutama dalam hukum Taurat (Mat. 22:37-39). Bahkan ayat ini sebenarnya didahului oleh ayat-ayat yang menunjukkan kasih itu, “Janganlah engkau membenci saudaramu di dalam hatimu” (19:17) dan “Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu” (19:18). Sesuatu yang ditegaskan kembali oleh Yesus dalam Khotbah di Bukit.

4. Aturan-aturan tentang budak juga menunjukkan kasih. Bangsa-bangsa lain memperlakukan budak tidak ubahnya seperti harta benda lainnya yang layak mereka perlakukan semau mereka, bahkan si tuan mungkin lebih menyayangi binatang peliharaannya daripada budaknya. Tetapi bangsa Israel dilarang untuk memperlakukan budak semena-mena dan bahkan harus dibebaskan pada tahun ketujuh dan di tahun pengembalian (19:20-22; 25:39-55; bandingkan dengan Kel. 21:1-11; Ul 15:12-18).

5. Tanah orang yang jatuh miskin dan dijual untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, harus dikembalikan pada tahun pengembalian (25:8-17; 23-34).

6. Orang yang jatuh miskin harus disokong agar bisa tetap hidup. Jika mereka masih harus berhutang, mereka tidak perlu membayar bunga. Jika mereka masih harus membeli makanan, maka makanan itu dijual kepada mereka tanpa keuntungan (25:35-38).

7. Ketika Allah harus menghukum umat-Nya yang tidak mau taat, Allah tidak serta-merta membinasakan habis mereka. Hukuman tersebut diberikan secara bertahap agar mereka punya kesempatan untuk bertobat. Ketika akhirnya hukuman terberat diberikan yaitu memberikan tanah negeri itu kepada bangsa lain dan menyerak-nyerakkan umat-Nya ke bangsa-bangsa lain, Dia masih tetap mengingat umat-Nya dan berniat memulihkan mereka (26:14-45). Ini memang terjadi dalam sejarah bangsa Israel.

Bacalah juga:
* Pelajaran dari Kitab Imamat 1
* Pelajaran dari Kitab Imamat 2
* Pelajaran dari Kitab Imamat 3
* Pelajaran dari Kitab Imamat 4
* Pelajaran dari Kitab Imamat 5
* Pelajaran dari Kitab Imamat 6

60 total views, 3 views today

Share

LEAVE A COMMENT

support by Masuk Sini