Single post

Pelajaran dari Kitab Imamat (2)

Bacalah dulu: Pelajaran dari Kitab Imamat 1

Keberdosaan Manusia

Ketika melihat, merasakan, dan menyadari aspek kekudusan Allah dalam kitab Imamat, maka secara bersamaan kita akan merasakan dan menyadari aspek keberdosaan dan ketidaklayakan kita sebagai manusia. Kekudusan Allah ini bisa menimbulkan suatu “rasa kehampaan mutlak,” suatu kesadaran akan rendahnya manusia di hadapan Allah, suatu perasaan bahwa dirinya hanyalah ciptaan yang tidak layak karena dosa (Berkhof: 123).

Jika dituntut untuk memenuhi standar kekudusan Allah, manusia tampaknya sulit sekali mencapai standar itu. Manusia begitu penuh dosa. Banyak hal, di mana saja dan kapan saja, bisa membuat manusia jatuh dalam dosa. Bersentuhan dengan bangkai binatang saja bisa membuat seseorang berdosa (Im. 6:24-28). Dosa itu bisa dilakukan oleh siapa saja: pemimpin (4:22), pendeta (4:3), orang biasa (4:27), laki-laki (15:18), perempuan (12:1-5), anak (18:7), dan orang tua (18:10), secara pribadi ataupun bersama-sama, secara sengaja maupun tidak. Tidak ada yang luput dari dosa. Manusia berdosa dalam segala pikiran, perbuatan, perasaan, dan kehendaknya. Sepertinya dari bangun tidur hingga tidur lagi, manusia dipenuhi dengan dosa.

Standar Allah tentang dosa tidak sama dengan standar manusia. Apa yang dipikir manusia tidak berdosa, bisa dinyatakan berdosa oleh Allah. Atau mungkin sebaliknya. Karena itu sebenarnya tidak ada manusia yang bisa memastikan berapa sebenarnya jumlah dosanya, apalagi berkata bahwa ia cukup sedikit berbuat dosa.

Ini menunjukkan ketidaksempurnaan manusia, dan di saat yang sama kekudusan Allah yang sempurna. Kekudusan Allah menuntut tidak adanya dosa satu pun di pihak manusia. Karena itu ketika belajar kitab Imamat ini, kita akan melihat ketidaklayakan kita di hadapan Allah, sementara melihat kekudusan Allah yang agung dan sempurna.

Ketika melihat pada ketidakberdosaan kita, maka tidak ada yang bisa kita banggakan ketika datang kepada Allah. Kita menyadari kehinaan kita, sementara menyanjung kekudusan Allah yang sempurna. Kita memohon pertolongan Allah yang bisa menyucikan kita melalui pengorbanan Yesus Kristus. Menghampiri Allah dengan sikap seperti ini akan menempatkan Allah dan kita di posisi yang sebenarnya. Kita tidak menurunkan derajad Allah, yang terlalu sering dilakukan dalam ibadah modern. Di dalam kerendahan hati inilah, kita bersandar pada anugerah Allah untuk menyelamatkan kita. Dan Allah akan menolong orang yang datang dengan “hati yang tunduk dan bertobat” (Mzm. 51:19, BIS).

Bacalah juga:
* Pelajaran dari Kitab Imamat 3
* Pelajaran dari Kitab Imamat 4
* Pelajaran dari Kitab Imamat 5
* Pelajaran dari Kitab Imamat 6

Share

LEAVE A COMMENT

design by Jasa Web Desain