Dosa Jamak Manusia

Oct 24
2010

“Dosa berbicara dalam lubuk hati orang jahat; ia sama sekali tidak takut kepada Allah. Ia menganggap dirinya sangat hebat, sehingga tidak menyadari kesalahannya, dan tidak membencinya” (Mazmur 36:2-3).

Seorang guru sekolah Minggu pernah berkata, “Dosa itu sering kali menimbulkan dosa-dosa lainnya.” Ia melanjutkan dengan contoh, “Suatu kali kamu berbohong kepada orang tuamu tentang uang jajan yang seharusnya kamu belikan makanan, tetapi malah kamu belikan mainan. Supaya tidak ketahuan dan dimarahi, kamu akan terus berbohong bahwa kamu sudah memakai uangmu itu untuk membeli makanan, dan mainan itu adalah pemberian temanmu.”

Perkataannya benar. Seseorang yang korupsi, tidak hanya melakukan “satu” dosa korupsi. Dia punya dosa ketamakan yang melandasi motivasi hatinya. Dia berbohong kepada aparat dan bahkan keluarganya dari mana uang itu berasal. Dia melakukan berbagai tipu muslihat untuk mendapatkannya. Dan karena begitu gampangnya mendapatkan uang itu, dia memakainya untuk bermain perempuan dan judi bola. Belum lagi, karena uang yang seharusnya untuk pemberdayaan masyarakat itu, banyak orang menjadi semakin miskin dan menderita karena uang itu tidak sampai kepada mereka.

Begitu juga ketika Ryan, Jagal Jombang, membunuh korban-korbannya, dosa itu tidak tunggal yaitu membunuh saja. Ada motif seksual yang menyimpang dan ketamakan di sana. Ada kemarahan, kebencian, dan dendam. Ada kebohogan.

Itu sebabnya jarang sekali orang jahat digambarkan di dalam Alkitab hanya memiliki satu dosa.  Pasti ada sederet dosa untuk menggambarkan orang jahat. Masalahnya, banyak orang—entah mereka yang belum maupun sudah percaya kepada Tuhan Yesus—merasa bahwa dia tidak melakukan banyak dosa. Dia hanya melakukan satu atau dua dosa saja, bahkan ada yang tidak percaya bahwa dirinya telah berdosa.

Ini bisa dikarenakan dia tidak tahu mana-mana saja yang termasuk dosa. Dia memakai standarnya sendiri. Bisa juga karena banyak orang hanya memahami sebagai sesuatu yang dilakukan. Sementara apa yang ada dalam hati (pikiran, perasaan, kehendak) tidak dianggapnya sebagai dosa.

Inilah yang Yesus pertegas ketika berbicara di atas bukit. Dia merombak pikiran kebanyakan manusia saat itu (dan masih hingga sekarang) bahwa dosa bukan hanya sesuatu yang dilakukan. Dia berkata, ketika seseorang memandang dengan nafsu berahi pada orang lain, maka ia sebenarnya sudah berzinah dengan orang itu (Mat. 5:27-29). Dan ketika seseorang marah kepada orang lain, maka ia sebenarnya sudah membunuhnya (Mat. 5:21-22).

Mazmur 36:2 di atas jelas mengatakan bahwa dosa itu berbicara dalam hati seseorang. Menganggap diri hebat juga ada di dalam pikiran dan perasaan. Maka agak sulit kalau menghitung dosa secara tunggal, bahkan sulit bagi siapapun untuk menghitung dosanya, banyak ataupun sedikit. Karena apa yang seringkali kita anggap bukan dosa, ternyata dosa bagi Allah. Jadi dosa akan saling berkaitan dan seandainya manusia bisa menghitung, maka jumlah dosa manusia adalah tak terhingga.

Tetapi masalah lainnya, manusia juga sering membenarkan dirinya sendiri meskipun dia tahu bahwa itu dosa. Tingkat paling parah ialah ketika seseorang tidak bisa menyadari dan membenci dosanya seperti yang dikatakan di ayat di atas. Jika seseorang tidak menyadari bahwa ia berdosa, ia sulit sekali membutuhkan pengampunan dari Allah. Hanya Roh Kudus saja yang bisa menyadarkan seseorang bahwa ia berdosa sepenuhnya dan butuh pengampunan Allah melalui Yesus Kristus.

Meskipun hanya ada “satu” dosa, manusia tidak mampu menghapus dosa itu. Satu dosa itu cukup membuatnya dibuang dari hadirat Allah sebagaimana Adam. Allah itu Mahakudus sehingga tidak ada tempat bagi satu dosa pun. Parahnya manusia tidak mungkin melakukan satu dosa, tetapi justru dosa yang jamak dalam sekali perbuatan saja.

Seberapa banyaknya dosa manusia, entah disadari atau tidak, entah dihitung atau tidak, Yesus Kristus telah mati bagi pengampunan dosa orang-orang yang percaya kepada-Nya. Di kayu salib itu Ia menggantikan hukuman bagi dosa. Tidak ada orang yang luput dari dosa, sehingga tidak ada orang yang luput dari hukuman Allah kelak. Tetapi Allah menawarkan pengampunan kepada manusia melalui percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat.

“Ya Allah yang Pengasih. Kami adalah orang-orang berdosa yang seringkali merasa diri paling benar. Kami begitu sombong dan di dalam hati kami hanya ada kejahatan. Tetapi tolonglah kami menyadari semua dosa kami. Dan kami membutuhkan pengampunan di dalam Yesus Kristus yang telah mati bagi kami. Terima kasih untuk pengampunan yang telah Engkau beri, ya Allah. Amin.”

  • Share/Bookmark

Harga Diri yang Terusik

Oct 21
2010

Hari merasa sedikit terusik ketika Matt, muridnya yang sudah dibina selama 2 tahun terakhir, datang kepadanya dan berkata, “Wah, kak, ternyata enak sekali berbicara dengan kak Anton. Saya banyak mendapat masukan darinya.” Hari berkata, “O, ya?” Hari merasa tidak senang karena Matt memuji Anton di depannya. Hari melanjutkan, “Tapi hati-hati saja dengan kak Anton itu. Ajarannya banyak yang kacau. Belum lagi hobinya yang tidak rohani itu.”

Mengapa Hari merasa tidak senang?

Kritikan memang perlu disampaikan jika memang orang tersebut melakukan penyimpangan-penyimpangan entah di dalam perilaku ataupun ajaran yang mendasar di dalam kekristenan. Antara lain pandangan bahwa Yesus bukanlah Allah atau Alkitab itu bukan Firman Allah. Atau jika orang itu melakukan penyimpangan seksual yang memang sudah menjadi fakta bukan gosip belaka.

Tetapi kritikan Hari muncul karena ketidaksukaannya mendengar orang lain dipuji. Apalagi jika pujian itu disampaikan oleh orang yang selama ini bergantung kepadanya.

Ketidaksukaan Hari muncul karena harga diri yang terserang. Hari merasa tersaingi ketika Matt menyampaikan pujiannya tentang Anton. Hari merasa bahwa dirinya sedang dibandingkan. Seseorang yang sombong tidak senang kalau dibandingkan dengan orang lain, apalagi orang lain menjadi lebih tinggi daripadanya. Dia sendiri suka membandingkan diri dengan orang lain, tetapi dia tentu berada di posisi yang lebih tinggi. Ketika Matt memuji orang lain, dia merasa pujian itu menempatkan orang lain lebih tinggi daripada dirinya.

Orang-orang dengan masalah harga diri juga merupakan orang-orang yang merasa senang ketika dibutuhkan. Salama ini Matt selalu mencari dirinya ketika punya pertanyaan dan masalah. Dia merasa bermakna ketika ada orang yang membutuhkan bantuannya. Ketika Matt mulai mendapatkan orang baru untuk dijadikan sumber jawaban atas pertanyaannya, Hari merasa bahwa dia akan segera ditinggalkan dan tidak dibutuhkan lagi.


Manusia selalu mencari makna diri. Itulah kebutuhan paling utama di antara kebutuhan-kebutuhan lainnya. Pencarian makna diri telah mendorong beberapa orang secara positif maupun negatif. Secara positif, pencarian makna diri diwujudkan dalam kerja, bantuan sosial, dan pelayanan. Secara negatif, ia mengambil bentuk pertengkaran, perselisihan, perdebatan, kritikan tajam, gosip yang tak berdasar, dan bentuk-bentuk kejahatan lainnya. Tetapi meskipun hasilnya positif, jika harga diri menjadi dasar motivasinya, maka Allah tidak berkenan atasnya karena segala sesuatu seharusnya untuk kemuliaan Allah.

Dosa membuat pencarian makna diri ini berpusat pada diri sendiri. Manusia ingin lebih dihargai daripada orang lain. Ia memiliki kesombongan yang tak ingin diakuinya. Maka diri sendiri menjadi pusat kehidupan orang yang selalu mencari makna diri.

Tetapi Allah melalui Yesus Kristus memberikan makna diri yang berbeda kepada orang yang percaya kepada-Nya. Orang percaya mendapatkan makna dirinya dari kebenaran bahwa dia telah diterima oleh Allah sebagaiman adanya dia. Buktinya? Yesus telah mati buat dia sebelum dia ada di dunia ini. Melalui Yesus, Allah mengangkatnya menjadi anak (Ef 1:4-5).

Kita diberi makna sehingga tidak perlu mencari makna dari yang lainnya. Kita telah diberi harga oleh Allah sehingga tidak perlu mengejar harga diri atau merasa kehilangan harga diri. Semuanya bersumber dan ditentukan oleh Allah.

Kesadaran akan kebenaran inilah yang seharusnya membuat Hari tidak perlu merasa resah dan tidak senang hati dengan pujian Matt untuk Anton. Hari tidak sedang kehilangan harga diri karena Allah tetap menghargainya. Tidak ada yang diambil dari diri Hari untuk diberikan kepada Anton, entah disengaja atau tidak oleh Matt. Seandainya Matt berniat menjatuhkan harga diri Hari, tetap tidak ada apapun yang sedang diambil secara esensi dari dirinya. Ini karena harga diri Hari dilandaskan pada pandangan Allah terhadapnya bukan pandangan manusia.

Mengakui dosa kesombongan, memfokuskan pikiran kepada Allah, mengambil waktu-waktu untuk refleksi tentang harga diri, tidak membanding-bandingkan diri dengan orang lain, dan mengenali kelemahan diri saat mana paling sering kesombongan itu muncul, akan menolong kita untuk memiliki harga diri yang benar.

“Ya Allah yang memberi kami harga diri di dalam Yesus Kristus. Kami bersyukur karena Engkau menerima kami apa adanya. Tolonglah kami untuk ingat akan kerendahan hati-Mu ya Yesus ketika kami digoda untuk menjadi sombong dan marah karena harga diri kami diusik. Amin.”

(Nama-nama di atas hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama dan situasi, ini bukanlah kesengajaan. Tetapi prinsip-prinsip diambil dari Alkitab, bukan fiktif)

  • Share/Bookmark

Kenapa Sulit Ikut Bersukacita?

Oct 19
2010

“Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!” (Roma 12:15)


Ayat ini berbentuk perintah, bukan pernyataan! Dengan kata lain, dalam realita, ayat ini mungkin tidak terjadi. Ayat ini mungkin bukan kebenaran umum yaitu sesuatu yang pasti terjadi dalam kehidupan manusia.

Manakah yang lebih mudah? Menangis bersama orang yang menangis? Ataukah bersukacita bersama orang yang bersukacita? Pikiran Kristen kita yang baik dengan segera menjawab: Bersukacita! Ini karena kita “seharusnya” melakukan itu. Tetapi apa yang seharusnya, dalam realita tidak selalu begitu.


Kita mudah terharu menyaksikan kesedihan, dukacita, dan penderitaan orang lain. Mungkin kita sedang berpikir bahwa kitalah yang mengalami itu. Tetapi ketika orang lain senang, mendapat hadiah rumah, kenaikan pangkat, pujian, keuntungan berlipat, apakah kita ikut senang?

Mulut kita mungkin berkata, “Wah saya ikut senang lho, Jeng. Jeng bisa dapat hadiah rumah ini.” Tetapi dalam hati kita merasa sakit. “Kenapa bukan saya yang dapat rumah ini?” Bahkan orang bisa berkata, “Tuhan tidak adil. Kok orang seperti itu malah dapat hadiah? Padahal aku rajin memberi persepuluhan.”

Atau ketika teman sekantor dapat kenaikan pangkat sekaligus gaji. Kita mungkin berkata kepadanya, “Selamat ya, Pak Robert.” Tetapi dalam hati kita geram, “Huh kenapa dia yang naik?”

Maka kita bisa tersenyum dan tertawa di mulut, tetapi tidak di dalam hati. Dan tentu bukan ini yang diingini Tuhan. Ketulusanlah yang lebih penting. Hatilah yang diperhitungkan.

Kita bisa menangis bersama orang-orang yang sedang menangis karena ketika melakukannya, kita tidak menjadi berada lebih rendah daripada orang yang berduka itu. Kita tidak kehilangan apapun. Dan tidak ada perlawanan terhadap daging kita. Kita tidak sedang melawan suatu dosa yang menggerogoti hati kita.

Tetapi ketika harus bersukacita bersama orang yang sedang bersukacita, kita sedang melawan keinginan daging dan dosa di dalam diri kita. Kita sedang bergumul melawan dosa yang paling tua umurnya.

Iri hatilah yang menjadi masalahnya. Itulah yang membuat Kain membunuh Habel. Padahal Habel sedang bersukacita karena Allah menerima persembahannya. Padahal mereka kakak adik. Inilah dosa yang membuat sebagian kakak dan adik di seluruh dunia bertengkar. Inilah yang membuat sebagian pemimpin gereja saling berebut kekuasaan. Inilah yang membuat sebagian karyawan saling menyikut.

Maka dosalah yang membuat sulit turut bersukacita bersama orang yang bersukacita. Dan dosa itu terutama iri hati. Maka iman kita kepada Yesus dan kesadaran akan besarnya anugerah Allah bagi kita seharusnya memampukan kita mengalahkan iri hati itu dan bersukacita bersama orang yang bersukacita sementara menangis bersama orang yang menangis.

  • Share/Bookmark

Topik Khotbah tentang Manusia

Oct 16
2010

Kita dikepung oleh seminar-seminar motivasi yang dipengaruhi oleh humanisme, buku-buku yang mengajarkan optimisme berdasarkan pikiran positif, dan hiburan-hiburan yang mendorong suburnya hedonisme. Semuanya ini juga telah memengaruhi ibadah termasuk khotbah di gereja. Maka doktrin manusia yang lebih alkitabiah perlu dikhotbahkan, bukan hanya memberikan tiga atau empat kunci untuk menghadapi masalah, tetapi lebih mengenal jatidirinya yang sesungguhnya. Topik-topik itu antara lain:

1. Keadaan mula-mula

  • Penciptaan vs Evolusi
  • Gambar dan Rupa Allah
  • Posisi manusia di antara ciptaan lainnya
  • Tujuan penciptaan manusia
  • Mandat untuk manusia

2. Keberdosaan Manusia

  • Asal usul dosa
  • Sifat dosa
  • Akibat dosa
  • Ketidakberdayaan manusia dalam dosa
  • Dosa asal dan dosa sesungguhnya
  • Hukuman atas dosa
  • Jalan keluar dari dosa
  • Godaan dan dosa

3. Kemerdekaan Manusia

  • Jalan Allah
  • Kasih dan keadilan Allah
  • Anugerah dan Perbuatan Baik
  • Iman
  • Jalan melalui Yesus Kristus

4. Karakter dan Pertumbuhan rohani

  • Standar Kedewasaan
  • Karakter-karakter Kristen
  • Buah-buah Roh
  • Hidup oleh Roh
  • Menjadi Serupa dengan Kristus
  • Relasi dengan Allah
  • Relasi dengan Sesama
  • Relasi dengan diri sendiri
  • Nilai-nilai Kristen

Topik-topik ini masih bisa dipecah-pecah lagi menjadi topik-topik yang lebih kecil. Khotbah berseri akan lebih baik sehingga bisa membentuk konsep berpikir meskipun sebaiknya tidak memakan periode yang terlalu lama. Masih ada tahun depan untuk membahas topik manusia ini. Jemaat perlu diajak untuk melihat lebih dalam kepada keberdosaannya dan kuasa dosa yang menjeratnya sehingga mereka melihat betapa berharganya pengorbanan Yesus dan betapa mereka membutuhkan karya Allah dalam hidup mereka terus-menerus.

Sumber:

1. Louis Berkhof, Teologi Sistematika 2: Doktrin Manusia; Surabaya: Momentum, 2001

  • Share/Bookmark

Topik Khotbah tentang Allah

Oct 15
2010

Masih ada banyak topik alternatif untuk berkhotbah tentang Allah selain khotbah tentang kebaikan Allah, kepedulian Allah, dan rencana Allah yang baik untuk menolong kita keluar dari masalah.

Berikut ini ada beberapa topik khotbah (untuk khotbah topikal) tentang Allah yang perlu diketahui jemaat:

1. Atribut-atribut Allah:

  • Kedaulatan
  • Kemuliaan
  • Kekudusan
  • Keadilan
  • Kemahahadiran
  • Kesempurnaan
  • Pengampunan
  • Hikmat
  • Kebijaksanaan
  • Kebenaran
  • Anugerah
  • Kesabaran
  • Kesetiaan
  • Kebaikan

2. Karya-karya Allah:

  • Penciptaan
  • Pemeliharaan
  • Sejarah Dunia
  • Penebusan
  • Penghakiman
  • Pemilihan
  • Penentuan
  • Perlindungan

3. Nama-nama Allah:

  • Elohim
  • Adonai
  • El-Shaddai
  • Yahweh
  • Theos
  • Kurios
  • El Melech
  • Yehovah Yireh
  • Yehovah Roi
  • Yehovah Elyon

4. Allah Tritunggal

  • Bapa
  • Anak
  • Roh Kudus
  • Kesetaraan
  • Kesatuan
  • Karya-karya

Topik-topik ini masih bisa dipecah-pecah lagi. Misalnya nama-nama Allah masih ada banyak lagi. Karya Allah tentang penciptaan masih bisa dibagi dalam topik seperti proses, tujuan, keteraturan, posisi manusia, dan sebagainya. Dengan demikian, khotbah menjadi begitu kaya dan memperkaya.

Sumber

1. Louis Berkhof, Teologi Sistematika 1: Doktrin Allah, Surabaya: Momentum, 2005
2. Nama-Nama Yehovah dengan Gelar

  • Share/Bookmark

Pendeta, Khotbahkan Topik Lain!

Oct 15
2010

Kira-kira itu jeritan sebagian jemaat yang bosan mendengar tema khotbah yang itu-itu saja. Bagi jemaat yang takut mengkritik pendeta, khotbah apapun pasti diterima. Tetapi jemaat yang kritis dan jujur akan merasa jenuh dengan khotbah yang itu-itu juga. Belum lagi jika penyampaian khotbah itu monoton, bertele-tele, tidak memerhatikan teori-teori komunikasi yang menarik.


Mereka yang bosan ini entah tertidur atau pura-pura tidur, berbicang-bincang dengan teman sebelah, atau yang paling populer sekarang, bermain BB. Ada yang mengirim sms, menulis status di Facebook, atau bermain Yahoo Messenger. Dalam jangka panjang, menyedihkannya, banyak orang muda dan dewasa malas pergi ke gereja. Bagi mereka, lebih banyak hal yang lebih bermakna dan menarik daripada mendengar sesuatu yang membosankan. Akhirnya bahkan mereka meninggalkan kekristenan.

Ada satu topik yang paling sering diulang oleh para pengkhotbah, bahkan entah mereka sadar atau tidak, 90% khotbah mereka memiliki topik yang sama. Kata kunci yang membangun topik mereka ialah “masalah” atau “kesulitan” atau “penderitaan” yang memiliki arti sama dengan masalah. Dari kata kunci itu maka mereka membangun topik-topik tentang hidup manusia yang penuh masalah, tetapi Tuhan akan menolong mereka karena Tuhan itu peduli, penuh kasih, punya rencana yang baik, selalu siap menolong.

Mereka bisa memakai berbagai ayat dan perikop, terutama dari Perjanjian Baru (keempat Injil), kemudian mengambil contoh-contoh dari Perjanjian Lama. Tetapi ujung-ujungnya topik mereka selalu sama. Mereka mungkin bahkan tidak pernah menyentuh kitab nabi-nabi. Jika memakai salah satu kitab nabi yaitu Maleakhi pun, itu digunakan untuk membahas tentang persepuluhan, padahal Maleakhi tidak berisi tentang doktrin persepuluhan. Atau Yeremia 29:11 yang lagi-lagi dikaitkan dengan masalah dan bagaimana Allah bisa memiliki rencana yang baik dalam masalah-masalah kita.

Tidak dipungkiri bahwa manusia punya banyak masalah karena dosa yang begitu mencengkeram hidup manusia dan dunia ini. Tetapi tidak berarti bahwa kita hanya perlu mendengar hiburan tentang bagaimana mengatasi masalah setiap minggu. Ini seperti makan makanan yang sama setiap hari (bahkan makanan yang sama setiap minggu akan membuat kita bosan).

Kita perlu mempelajari berbagai aspek kekristenan lainnya. Masih banyak topik dan doktrin yang bisa diajarkan Alkitab. Dengan mempelajari topik-topik lainnya, iman kita diperkaya, kita mengenal kekristenan secara lebih lengkap, dan yang lebih penting kita mengenal Allah juga secara lebih lengkap. Pengenalan akan Allah yang lengkap akan memengaruhi sikap, karakter, pikiran, dan tindakan kita.

Pengetahuan doktrin yang lengkap membentuk konsep berpikir dan ini pada akhirnya membantu orang percaya untuk secara bijak mengambil keputusan dan mengatasi masalah-masalah hidup setiap hari. Jika mereka tidak mendapatkan informasi yang lengkap tentang doktrin-doktrin Kristen, mungkin mereka akan meraba dalam kegelapan atau memakai filsafat dunia untuk mengatasi masalah mereka. Jadi mereka tidak hanya butuh dihibur saat menghadapi masalah tetapi terlebih lagi bagaimana mengatasi masalah-masalah mereka sesuai nilai-nilai kekristenan. Dan ini butuh pengajaran doktrin secara lengkap.

Ada begitu banyak pengkhotbah yang mencintai Tuhan, memiliki kebaikan dan ketulusan hati yang luar biasa, tetapi pengkhotbah perlu menjalankan fungsinya sebagai pemberi makanan yang sehat kepada domba-domba. Karena itu pengkhotbah punya tanggung jawab untuk belajar lagi dan lebih dalam apa yang sebenarnya ada di dalam Alkitab. Mereka perlu membaca buku-buku teologi berbobot, bukan buku teologi picisan. Mereka juga perlu belajar cara penyampaian khotbah yang baik. Mereka perlu bekerja keras sebagaimana para rasul mengkhususkan diri mereka untuk doa dan Firman Allah.

Tanggung jawab pengkhotbah sangat besar. Mereka punya banyak kesempatan untuk memberitakan Firman Allah kepada orang-orang yang dengan rela datang ke gereja. Padahal banyak orang tidak punya kesempatan untuk mendengarkan Firman Allah. Jadi kesempatan itu tidak boleh disia-siakan.

Pengkhotbah bisa membawa kebangunan rohani tetapi juga kematian rohani. Mereka bisa membawa orang datang kepada Kristus tetapi juga bisa membuat orang meninggalkan Kristus.

Baca juga: Topik Khotbah tentang Allah

  • Share/Bookmark

Mendidik Anak dalam Keuangan (3)

Oct 15
2010

Cara-Cara Praktis

1. Memberi anak celengan yang menarik. Beri alasan untuk apa mereka menabung di situ. Beri motivasi. Beri cerita-cerita tentang manfaat menabung. Untuk anak-anak yang lebih besar, celengan masih tetap menarik, tetapi juga baik untuk membawa mereka ke bank dan membuka rekening atas nama mereka. Mereka bisa menyimpan buku tabungan itu.

2. Mengajari anak membuat perencanaan dan anggaran. Perencanaan bisa diwujudkan dengan memberi kotak-kotak menarik atau amplop-amplop berwarna-warni yang masing-masing diperuntukkan bidang-bidang berbeda. Misalnya satu kotak untuk persembahan, satu kotak untuk misi, satu kotak untuk uang jajan, satu kotak untuk membeli buku, satu kotak untuk anak yatim piatu. Ajari anak untuk menganggarkan sesuai prioritas. Kemudian anak-anak diajari untuk mencatat pengeluaran setiap hari.

3. Untuk mengajari anak-anak bekerja keras, uang tambahan hanya diberikan jika mereka melakukan pekerjaan-pekerjaan yang disepakati misalnya memotong rumput di taman rumah atau ketika mereka belajar tekun selama jam-jam yang telah ditentukan meskipun hasilnya mungkin tidak 10.

4. Libatkan anak-anak dalam rencana liburan, sumbangan, dan pembelian barang, agar mereka tahu nilai-nilai orang tua dalam membeli barang dan menggunakan uang. Tentu nilai-nilai Alkitablah yang seharusnya dipakai oleh orang tua misalnya nilai manfaat, nilai kesederhanaan (tidak berfoya-foya), nilai prioritas, nilai belas kasihan, dan nilai kemurahan hati.

5. Ajari anak-anak betapa berbahayanya memakai kartu kredit terutama untuk menarik uang tunai. Ajari anak-anak untuk tidak suka berhutang.

6. Libatkan anak-anak dalam pekerjaan sesuai usia mereka. Libatkan mereka dalam magang di perusahaan keluarga. Libatkan mereka dalam bisnis kecil-kecilan keluarga. Minta pendapat mereka untuk mengembangkan bisnis.

7. Ceritakan bagaimana uang bisa mendukung misi. Ajak anak-anak bertemu dengan para misionaris sehingga mereka tahu betapa pentingnya misi dan dukungan untuk itu.

  • Share/Bookmark

Mendidik Anak dalam Keuangan (2)

Oct 13
2010

Mendidik anak dalam masalah uang berarti mendidik karakter anak. Karakter-karakter yang bisa ditanamkan kepada anak-anak berkaitan dengan keuangan antara lain:

1. Tanggung Jawab. Jika mereka diberi sejumlah uang untuk waktu tertentu (mingguan atau bulanan), diajari untuk membuat anggaran, dan menggunakan uang itu secukupnya tanpa boleh meminta lagi kecuali kebutuhan-kebutuhan yang tak bisa dihindari seperti buku pelajaran dan alat tulis.

2. Disiplin. Jika mereka diajar untuk melakukan apa yang telah mereka rencanakan sebelumnya.

3. Kerajinan (lawan dari kemalasan). Jika mereka diberi uang atau hadiah karena hasil kerja misalnya membantu membersihkan piring, mendapatkan hasil ujian yang baik, dan mengikuti les piano.

4. Kemurahan hati. Jika mereka diajar untuk memberi. Jika mereka diajar untuk menyisihkan uang secara khusus untuk misi dan yatim piatu.

5. Penguasaan diri. Jika mereka belajar bagaimana menahan diri untuk tidak membeli semua hal yang mereka inginkan. Jika mereka diajar untuk berbelanja secara bijak, menabung, dan menggunakan uang sesuai anggaran.

6. Mengutamakan yang lebih utama. Jika mereka diajar untuk mengasihi Allah lebih daripada uang dan kekayaan. Jika mereka diajar untuk mendahulukan penggunaan uang untuk kebutuhan-kebutuhan yang lebih utama. Jika mereka belajar untuk tidak berfoya-foya.

7. Bijaksana. Jika mereka belajar menggunakan mana yang lebih utama, mereka belajar untuk memilah-milah, belajar mana yang terbaik dari yang lebih baik, mana yang harus dan seharusnya. Ini semua akan membentuk pemikiran yang bijak.

8. Kreativitas. Jika mereka belajar untuk tentang investasi dan tentang pengelolaan uang yang baik.

  • Share/Bookmark

Mendidik Anak dalam Keuangan (1)

Oct 13
2010

Anak-anak perlu dididik dalam memahami dan menjalankan prinsip-prinsip keuangan yang sesuai dengan nilai-nilai Alkitab. Prinsip-prinsip yang perlu diajarkan itu ialah:

1. Prinsip pengelolaan. Bahwa kita bukanlah pemilik atas uang, Allahlah yang memilikinya. Kita hanya mengelolanya secara bertanggung jawab.

2. Prinsip anggaran. Ini berkaitan dengan perencanaan agar anak-anak belajar bagaimana menyusun anggaran sebelum menggunakannya.

3. Prinsip penggunaan. Ini berhubungan dengan cara kita mengelola keuangan secara bijak. Penggunaan bisa dikaitkan dengan perluasan Kerajaan Allah dan pengeluaran untuk barang-barang yang berguna.

4. Prinsip menabung. Mengajari tujuan dan maksud menabung. Mengajari anak-anak untuk menahan diri dan tidak berfoya-foya.

5. Prinsip kekayaan. Bahwa manusia tidak boleh mengingini kekayaan. Bahwa kekayaan bisa diberikan oleh Allah atas hasil kerja keras tetapi pemberian ini disertai tanggung jawab untuk menggunakannya bagi kemuliaan Allah dan kesejahteraan sesama. Nilai manusia bukan pada kekayaannya tetapi keberadaannya di hadapan Allah.

6. Prinsip investasi. Ini bisa diajarkan anak-anak yang sudah lebih dewasa atau menginjak remaja.

Prinsip-prinsip ini kemudian diwujudkan dalam cara-cara praktis sesuai usia anak. Anak-anak akan memiliki banyak karakter positif jika mereka belajar tentang uang dan pengelolaannya sejak dini.

Perlu diingat bahwa pembelajaran terbaik yang paling cepat dan mudah diserap oleh anak-anak adalah keteladanan orang tua. Gaya hidup, cara pandang, dan cara orang tua menggunakan uang akan menurun kepada anak-anak. Jadi orang tua perlu melakukan apa yang mereka ajarkan tentang keuangan.

Sumber:
1. Howard L. Dayton Jr., Your Money Counts, Tyndale House Publishers, 1997.

  • Share/Bookmark

Menjadi Seperti Yesus

Oct 08
2010


Teks: Roma 7:13-8:30

Perdebatan muncul tentang teks Roma 7:13-26. Ada yang berpendapat bahwa di sini Paulus sedang berbicara keadaannya sebelum menerima Kristus. Pendapat sebaliknya berkata ini keadaan Paulus setelah pertobatannya. Pandangan pertama menafsirkan “Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat . . . Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat” (15, 19) sebagai sesuatu yang tidak mungkin dilakukan setelah percaya kepada Kristus. Pandangan kedua mengatakan hal itu masih mungkin terjadi karena dosa masih ada di dalam diri orang percaya.

Jika mengikuti alur pembicaraan dari Roma 1 dan melihat tema keseluruhan kitab Roma, maka perikop ini tidak sedang menekankan waktu yang paling mungkin dari keadaan Paulus ini. Kedua pandangan bisa benar. Pandangan pertama tentu tidak diragukan lagi bahwa orang yang belum menerima Kristus pasti dalam keadaan dikuasai dosa. Pandangan kedua juga ada benarnya karena setelah menerima Kristus, dosa tidak serta-merta hilang. Bahkan orang percaya menghadapi pergumulan terus-menerus melawan dosa.

Paulus sedang menekankan betapa tidak berdayanya manusia karena kekuasaan dosa. Manusia yang paling saleh pun bisa takluk oleh daya tariknya yang menjatuhkan. Keinginan orang yang paling baik pun tidak bisa membuat dirinya benar. Dosa telah begitu merasuk diri manusia sehingga “Tidak ada yang benar, seorangpun tidak” (3:10).” Karena itu tidak ada manusia yang bisa dibenarkan melalui perbuatan-perbuatannya. Tidak ada manusia yang bisa diselamatkan karena semua orang “telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah” (3:23).

Hanya iman kepada Yesus Kristus yang bisa menyelamatkan, sebagaimana tertulis: “Orang benar akan hidup oleh iman” (1:17). Pembenaran dimungkinkan karena Allah telah memberikan anugerah melalui Yesus Kristus yang telah mati bagi pengampunan dosa orang yang beriman kepada-Nya (8:3, 4). Bagaimana seseorang bisa beriman kepada Kristus? Roh Kuduslah yang mengerjakannya. Roh Kudus membuka pemahaman seseorang tentang karya Kristus di Salib yang memungkinkan seseorang bebas dari dosa dan akibat dosa yaitu maut (8:2-8).

Roh Kudus menghidupkan roh orang berdosa sehingga bisa memahami karya Kristus (8:2). Dia mengangkat orang-orang percaya menjadi anak-anak Allah (8:15-16). Dia memberikan hukum baru di dalam diri orang percaya untuk hidup menurut Roh (8:9-11). Dia juga menolong kita dalam kelemahan-kelemahan kita (8:26) sehingga akhirnya tujuan Allah tercapai yaitu menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya (8:29).

Jadi dulu sebelum seseorang percaya kepada Kristus, dia tidak berdaya menuruti hukum-hukum Allah karena dosa begitu menguasainya. Dia tidak punya harapan untuk dibenarkan karena semua keinginan baik untuk berbuat benar pun tidak mampu melawan dosa. Kini setelah menerima Kristus, dia dibenarkan. Bukan hanya dibenarkan, dia dimampukan untuk melakukan kebenaran menurut standar Allah. Dan semuanya ini mengarah kepada menjadi seperti Kristus.

Pergumulan melawan dosa masih terus ada dalam diri orang percaya. Tetapi karena Roh Kudus di dalam dirinya, dia kini memiliki dua pilihan. Dulu, dia hanya punya satu pilihan yaitu mengikuti dosa. Kini, dia bisa mengikuti dosa atau bisa mengikuti pimpinan Roh Kudus untuk taat kepada Allah. Dia juga diberi kemampuan untuk mengikuti pimpinan Roh Kudus.

Jadi bukanlah sesuatu yang mustahil untuk menjadi seperti Kristus di dalam pilihan-pilihan antara mengikuti hawa nafsu diri sendiri dan mengikuti Tuhan. Roh untuk taat telah diberikan kepada kita, status kita telah diubah dari orang berdosa menjadi anak-anak Allah, sebuah kehidupan baru telah ditanam dalam kehidupan lama kita. Setiap pilihan untuk taat menjadikan kita seperti Kristus, di mana keserupaan ini menemukan kesempurnaannya kelak ketika bertemu Allah di Surga. Maka bersama Roh Kudus, keputusan kita untuk memilih taat akan membuahkan karakter yang sedikit demi sedikit seperti Kristus.

  • Share/Bookmark