Single post

Mengapa Mudah Marah?

Acuan: Matius 5:22; 1 Korintus 13:5; Kejadian 4:1-16

Setiap kita memiliki sebuah bom yang siap meledak setiap saat. Potensi ledakan itu bisa sangat besar, bisa kecil saja. Itulah kemarahan dalam diri kita.

Ada kemarahan yang merupakan dosa, ada yang tidak. Kemarahan yang bukan dosa adalah kemarahan terhadap dosa yang dilakukan oleh diri sendiri dan orang lain, terhadap ketidakadilan, dan terhadap penindasan.

Tetapi kita lebih sering memiliki kemarahan yang merupakan dosa. Ada banyak penyebab dari kemarahan itu. Ada kemarahan yang berakar dari sifat minder, sombong, atau dosa-dosa lain. Misalnya seseorang yang telah berdosa karena melakukan dusta atau seks di luar nikah berusaha menutupinya dengan kemarahan, supaya orang lain takut dan tidak menemukan kesalahan kita. Ada kemarahan yang berakar dari kepahitan dan kekecewaan yang dipendam begitu lama dalam hati. Ada kemarahan yang berakar dari kecurigaan yang berlebihan dalam pikiran.

Selain itu, kita marah karena merasa diabaikan, disinggung, diejek, difitnah, diremehkan, dan disakiti secara sengaja. Beberapa dari kita marah karena terlalu sensitif. Kita juga bisa marah karena merasa tidak aman dengan diri sendiri. Kita merasa orang lain sedang memusuhi kita, mengincar posisi kita, menyerang dan membenci kita. Ada kemarahan yang didorong oleh posisi yang kita miliki. Pemimpin-pemimpin biasanya marah karena merasa posisinya membuatnya harus dihargai dan dituruti, dan ketika tidak mendapatkannya, dia menjadi marah

Jadi akar dari kemarahan adalah dosa yang memenuhi hati dan pikiran kita. Tuhan Yesus pernah marah tetapi Dia bukan pemarah. Pemarah adalah orang yang selalu marah-marah tanpa alasan yang jelas dan di mana saja. Kemarahan Yesus bukanlah suatu dosa, karena Dia marah melihat dosa, pemberontakan manusia terhadap Allah, dan ketidakadilan.

Share

LEAVE A COMMENT

design by Jasa Web Desain