Memahami Panggilan Misi

Jul 09
2010


Salah satu pertanyaan yang paling dicari jawabannya oleh orang-orang yang terbeban untuk misi adalah “Apakah aku dipanggil menjadi misionaris?” Bagaimana mengetahui panggilan itu? Sebagian orang ingin dipanggil secara ajaib, misalnya melalui mimpi, penglihatan, dan nubuat. Jika tidak dengan cara ini, maka mereka tidak mau mengambil keputusan untuk pergi. Sebagian orang lainnya memakai logika semata untuk memahami panggilan. Itu sebabnya J. Herbert Kane menulis, “Tidak ada aspek dari misi Kristen yang lebih membingungkan daripada masalah panggilan.”

Tetapi ada beberapa pertimbangan yang bisa dipakai sebagai tanda-tanda untuk memahami panggilan sebagai misionaris:

1. Kesadaran akan Amanat Agung. Hampir semua orang Kristen pasti tahu apa yang dimaksud dengan Amanat Agung, tetapi tidak berarti semua orang Kristen dipanggil menjadi misionaris. Orang yang dipanggil menjadi misionaris akan merasakan beban yang lebih besar daripada orang-orang Kristen lainnya ketika membaca atau mendengar tentang Amanat Agung dalam Matius 28:19-20 dan ayat-ayat lain yang serupa. Dia tergerak dengan kisah-kisah para rasul. Dia merasakan hati Allah dalam Alkitab untuk menyelamatkan yang terhilang. Dia tidak melihat cara lain selain memberikan diri dan pergi untuk menggenapi Amanat Agung.

2. Kesadaran akan kebutuhan. Tidak semua orang yang menyadari kebutuhan misi memang dipanggil, tetapi orang yang dipanggil pasti tergerak oleh adanya kebutuhan misi. Ketika dia tahu bahwa 30% orang di dunia ini belum mendengarkan Injil, 40% suku di dunia belum terjangkau, 5.000 orang meninggal setiap jam, 1.700 bahasa masih belum memiliki Alkitab satu bagian pun, maka fakta-fakta ini menggerakkan hatinya. Ada beban yang menggelisahkan hatinya untuk menjadi bagian dari jawaban atas kebutuhan tersebut.

3. Dukungan Gereja. Pengutusan dan dukungan jemaat Anthiokia terhadap Paulus dan Barnabas menunjukkan bahwa panggilan misi keduanya telah diteguhkan. Saudara-saudara seiman bisa melihat apa karunia kita, bagaimana kepribadian kita, dan apakah kita bisa menjadi seorang misionaris. Dalam beberapa kasus memang pemimpin Gereja tidak mau melepaskan seseorang yang jelas-jelas punya panggilan misi karena takut kehilangan tenaganya yang penting bagi gereja lokal. Namun ini bukanlah tanda bahwa orang itu tidak dipanggil untuk misi. Sebaliknya dorongan saudara seiman dan pemimpin Gereja untuk terlibat dalam misi perlu benar-benar dipertimbangkan sebagai panggilan misi.

4. Kerelaan untuk pergi. Panggilan diikuti dengan tindakan. Tindakan itu didasari atas kerelaan untuk taat sepenuh kepada Amanat Agung Kristus, kerelaan untuk pergi ke tempat baru, meninggalkan kenyamanan hidupnya, dan melayani di tengah orang yang tidak dikenal. Kadang kerelaan ini bercampur dengan beban dan kerinduan yang dalam untuk memberitakan Injil di tempat di mana Kristus belum dikenal dan keinginan untuk melihat Allah dimuliakan di tempat tersebut. Tetapi ada juga beberapa orang yang mendapatkan panggilan misi tidak rela untuk pergi pada awalnya. Mereka khawatir dengan banyak hal.Untuk orang-orang seperti ini, pada akhirnya dibutuhkan kebulatan tekad dan keputusan untuk pergi.

M. David Sills mengatakan, “Memang tidak mudah mendefinisikan bagaimana panggilan misi didapat oleh seseorang. Panggilan misionaris, sama seperti cinta yang Anda rasakan terhadap seseorang, yang sangat pribadi, sehingga deskripsi yang pasti tentang panggilan misionaris yang berlaku universal sangat sulit diberikan.” Itu sebabnya setiap orang mungkin dipanggil dengan cara-cara yang berbeda tergantung pada kedaulatan Allah. Ada yang mendapatkan panggilan itu dengan cara supranatural, pikiran yang dibukakan secara bertahap, perjumpaan dengan misionaris lainnya, membaca Alkitab, membaca buku biografi misionaris, perjalanan misi singkat, dan lain-lain.

Panggilan misi, yang datang dengan berbagai cara, perlu segera direspons. Tidak perlu menunggu hingga semuanya menjadi jelas. Tempat dan waktu merupakan hal lain yang perlu digumuli oleh orang yang mendapatkan panggilan. Panggilan dan bimbingan adalah dua hal yang berbeda. Setelah dipanggil, seseorang perlu mencari bimbingan Allah untuk tempat, waktu, lembaga misi, dan hal-hal lain yang diperlukan untuk melakukan misi.

Biarlah lebih banyak orang merespons panggilan misi demi kemuliaan Allah. Bukan hanya anak-anak muda di bawah usia 25 tahun yang dipanggil untuk misi. Siapa saja, baik yang sudah menikah dan memiliki anak, baik yang sudah berusia 40 tahun ke atas, baik wanita maupun pria, bisa dipanggil Allah. Masalahnya ialah maukah kita merespons panggilan itu?

Sumber:

  1. Sills, M. David. The Missionary Call: find your place in God’s plan for the world (Chicago: Moody Publishers), 2008.
  2. Hoke, Steve & Taylor, Bill. Global Mission Handbook: A Guide for Crosscultural Service (Illinois: IVP Books), 2009
  • Share/Bookmark

3 Responses to “Memahami Panggilan Misi”

  1. Persiapan Memenuhi Panggilan Misi | Panggilan Hidup Kristen Radikal says:

    [...] tetapi tidak bisa segera pergi ke ladang misi karena berbagai alasan. Dalam masa-masa ini, setelah mengetahui panggilan misi yang mereka dapatkan, mereka perlu mempersiapkan diri sebelum akhirnya pergi ke ladang [...]

  2. Kebutuhan Misi Masa Kini | Panggilan Hidup Kristen Radikal says:

    [...] memahami apakah kita memiliki panggilan misi, maka kita perlu lebih dulu mengetahui kebutuhan misi saat ini. Apabila fakta-fakta misi ini [...]

  3. Panggilan Misionaris | Panggilan Hidup Kristen Radikal says:

    [...] Pertanyaan yang banyak muncul adalah, “Bagaimana saya tahu bahwa saya memiliki panggilan misionaris?” Jawabannya bacalah di: Memahami Panggilan Allah. [...]

Leave a Reply