Single post

Khotbah yang Mengubah Hati

Adalah dambaan para pengkhotbah jika khotbahnya mengubah hidup seseorang. Meskipun ada pengkhotbah-pengkhotbah yang berorientasi pada uang dan kepopuleran, masih ada pengkhotbah-pengkhotbah yang murni dan takut akan Allah. Pengkhotbah yang murni ingin melihat perbuatan Allah melalui Firman yang disampaikannya sehingga terjadi perubahan dalam diri orang yang mendengarnya.

Ada beberapa faktor yang terlibat di dalam khotbah yang mengubahkan.

1. Peran Roh Kudus. Sesungguhnya Roh Kuduslah yang mengubahkan hati seseorang. Dia bekerja secara tak terlihat. Tetapi Dia juga bekerja menggunakan peranan pengkhotbah. Doa menjadi satu-satunya sarana meminta peranan Roh Kudus yang mengubahkan hati itu. Doa merupakan tanda bahwa kita sedang bersandar dan berserah kepada peran Roh Kudus. Kita merendahkan hati bahwa kita tidak bisa mengubah hati manusia sedikit pun.

2. Kehidupan pengkhotbah. Kehidupan yang suci seperti pipa tanpa sumbatan sehingga air yang mengalir tidak terhambat. Roh Kudus memang bisa bekerja melalui siapa saja tanpa dihalangi, tetapi Allah juga menuntut kesucian hidup hamba-hamba-Nya agar Dia bisa memakai kehidupan mereka tanpa halangan. Lagipula pengkhotbah perlu menjalani apa yang dikhotbahkannya supaya hati nuraninya tidak menuduhnya ketika berkhotbah. Kesatuan antara perbuatan dan perkataan juga menjadi teladan yang hidup bagi orang-orang yang melihatnya. Maka tidak ada penolakan ketika si pengkhotbah berbicara karena orang lain melihat bahwa dia telah melakukannya.

3. Khotbah yang berisi kebenaran Alkitab. Banyak khotbah berisi kebenaran sang pengkhotbah. Alkitab ditafsirkan semena-mena tanpa mengikuti kaidah penafsiran, sehingga otoritas Alkitab digantikan oleh otoritas pengkhotbah. Pengkhotbah tidak hanya bertanggung jawab dalam menyampaikan khotbahnya, tetapi terutama isi khotbahnya. Karena itu pengkhotbah perlu belajar menafsirkan Alkitab dengan benar supaya kebenaranlah yang didapatkan dan disampaikan. Dan hanya kebenaran sejati yang bisa menghasilkan perubahan yang sejati pula.

4. Khotbah yang berpusat pada kemuliaan Allah. Terlalu banyak khotbah yang berisi tentang karakter dan perbuatan baik, tetapi tidak mengubah jemaat. Mengapa? Karena khotbah itu tidak berbicara tentang Allah sama sekali. Manusia yang dikuasai dosa tikak diajak untuk memandang pada kekudusan, kebesaran, dan kemahakuasaan Allah. Sebaliknya, ketika diajak untuk melihat kepada Allah, maka manusia lebih sadar akan posisinya dan memiliki keinginan yang kuat untuk hidup bagi Allah. Khotbah-khotbah tentang kemuliaan Allah akan menarik hati jemaat kepada Allah sendiri.

5. Khotbah yang berpusat pada Kristus. Beritakanlah tentang Yesus Kristus. Sesungguhnya hidup kekristenan bersumber pada Tuhan Yesus. Dialah Guru dan Tuhan kita yang sempurna. Dia menjadi teladan yang sempurna dalam semua aspek kehidupan. Dialah sumber inspirasi, pengharapan, kekuatan, dan kepercayaan kita. Maka tidak ada yang tidak akan tersentuh ketika kita berbicara tentang Tuhan Yesus. Kaitkanlah semua khotbah kita dengan Tuhan Yesus dan saksikanlah keajaiban karya-Nya melalui khotbah-khotbah kita.

Melakukan peranan kita semaksimal mungkin adalah tanggung jawab kita. Dalam kedaulatan Allah, Dia akan menggunakan upaya kita mengubah hati manusia.

Bahan bacaan:

1. John Piper, Supremasi Allah dalam Khotbah, Surabaya: Momentum, 2008.

2. James D. Berkley (ed.), Leadership Handbook of Preaching and Worship, chapter 2, Grand Rapids: Baker Books, 1992.

6 total views, 1 views today

Share

LEAVE A COMMENT

support by Masuk Sini