Single post

Khotbah yang Memerdekakan

“. . . dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu” (Yoh. 8:32).

Kebenaran itu memerdekakan. Kebenaran itu seperti pemandu wisata yang memandu kita melewati jalan-jalan di hutan yang tidak pernah kita lalui sebelumnya. Kebenaran itu seperti cahaya lampu yang menerangi jalan kita melewati gua gelap. Kebenaran itu menuntun manusia keluar dari kejahatannya.

Namun sebelum kebenaran menjalankan fungsinya yang memerdekakan itu, seseorang tentu perlu mengetahui kebenaran itu sendiri, entah kebenaran yang hakiki maupun yang praktis. Manusia perlu diberi tahu. Manusia perlu dibukakan akal budinya. Manusia perlu diberi informasi agar dengan pengetahuannya yang terbuka, dia bisa menjalankan kebenaran itu. Kalau seseorang tidak mengetahui apa yang benar, bagaimana dia bisa menjalankannya?


Khotbah yang memerdekakan berarti khotbah yang berisi kebenaran. Khotbah itu diambil dari teks yang telah ditafsirkan dan diolah dengan benar.Pengkhotbah harus tunduk pada prinsip-prinsip penafsiran teks yang baku dan bertanggung jawab. Pengkhotbah tidak boleh memaksa teks agar sesuai dengan kemauannya sendiri. Pengkhotbah tidak boleh memasukkan pikirannya sendiri ke dalam teks, tetapi sebaliknya membiarkan teks itu yang mengungkapkan maksudnya.

Khotbah yang memerdekakan bisa diambil dari teks yang sulit dipahami atau dipertanyakan sebagian orang. Pertanyaan-pertanyaan ini sering muncul dalam diskusi-diskusi dengan jemaat. Ketika teks yang sulit itu disingkapkan artinya, maka itu seperti memberi suatu pencerahan kepada jemaat awam.
Khotbah yang memerdekakan juga berarti khotbah yang berisi doktrin yang benar. Banyak pengkhotbah mengabaikan doktrin yang sehat, tetapi menyampaikan doktrin yang bersumber dari pengalamannya sendiri. Sementara pengalaman tidak bisa diabaikan, doktrin sebaiknya berasal dari Alkitab atau sistematika teologi arus utama yang telah teruji kebenarannya di sepanjang zaman.

Khotbah yang memerdekakan bisa berupa khotbah yang menjawab kontroversi iman di tengah umat. Khotbah itu mengandung apologetika. Khotbah itu mencerahkan logika seseorang. Khotbah itu bukan hanya berisi nasihat-nasihat tentang karakter Kristen yang baik atau tentang masalah dan persoalan, tetapi bagaimana menjawab kesulitan-kesulitan dari teks-teks Alkitab tertentu. Khotbah itu menyingkapkan lebih banyak tentang karakter Allah.

Khotbah memiliki sasaran agar para pendengarnya menjadi pelaku firman. Agar dapat menjadi pelaku firman, mereka tentu perlu mengetahui kebenaran. Jika mereka hanya mendengar separuh kebenaran, maka itu pula hasil dari perilaku mereka. Jika mereka mendengar kebenaran palsu, palsu pulalah perilaku mereka. Apalagi jika mereka masih bingung atau tidak mengetahui suatu kebenaran, maka tidak ada perilaku benar yang bisa diharapkan dari kehidupan mereka.

Maka setelah pemahaman dibukakan, setelah kebenaran diterima, perilaku yang benar bisa diharapkan keluar dari kehidupan para pendengarnya. Setidaknya, seseorang yang telah mendengar kebenaran, akan memiliki peluang untuk melakukan apa yang benar, daripada yang tidak sama sekali.

10 total views, 1 views today

Share

LEAVE A COMMENT

support by Masuk Sini