Kejatuhan Elia

Sep 20
2011

1 Raja-Raja 19:1-4

Orang sering menuntut terlalu tinggi terhadap hamba Tuhan. Kalau hamba Tuhan itu stress, dan bahkan depresi, pasti hamba Tuhan itu langsung kita cap bukan hanya tidak memuliakan Allah, tetapi juga tidak berintegritas, kurang iman, tidak saleh, tidak pantas dan seterusnya. Tetapi ternyata hamba Tuhan terbesar pun bisa stress dan depresi. Inilah yang dialami oleh seorang nabi yang luar biasa, yang diangkat oleh Allah ke surga dan pelayanannya sangat berhasil. Ketika membaca bagian ini, kita bertanya-tanya mengapa hamba Tuhan sebesar ini bisa menjadi begitu lemahnya sampai minta-minta mati? Mengapa hamba Tuhan yang sangat diurapi ini, yang sangat dekat dengan Allah ini, bisa stress dan depresi?

Setelah raja Ahab memberi tahu istrinya, Izebel, bahwa Elia sudah membunuh semua nabi Baal, Izebel bertekad untuk membunuh Elia. Ketika Elia mendengar bahwa ia hendak dibunuh, apa reaksinya? Ia takut, lari menyelamatkan nyawanya, putus asa, dan hampir menyerah. Seandainya saya anak dari janda di Sarfat yang telah dibangkitkan dari kematian oleh Elia, dan saya menjadikan Elia sebagai superhero saya, sebagai pahlawan yang sangat saya banggakan dan junjung tinggi, saya pasti kecewa sekali melihat perbuatan Elia ini.

Tetapi Yakobus 5:17 mengingatkan kita bahwa Elia adalah manusia biasa. Sebagai manusia biasa, Elia bisa mengalami rasa takut, dan takut yang sangat luar biasa itu membuatnya lari. Orang yang menjadikan orang lain sebagai superheronya, termasuk hamba Tuhan, akan menemui kekecewaan. Karena apa? Karena hamba Tuhan bukan superhero. Hamba Tuhan tidak kebal penyakit. Paling tidak, hamba Tuhan pasti sakit gigi, sakit kepala, sakit pinggang, sakit leher, atau masuk angin. Hamba Tuhan juga tidak kebal stress. Ada yang bilang orang Kristen tidak mungkin sakit. Orang Kristen pasti bahagia selalu. Orang Kristen pasti damai selalu. Apalagi kalau hamba Tuhan. Memang benar kalau dia dalam ada di Surga. Dan 100% salah kalau dia masih ada di dunia. Karena dosa memenuhi dunia ini, dosa masih bisa menggerogoti jiwa ini, begitu juga dengan akibat-akibat dosa.

Elia takut tetapi dia tidak mencari Allah. Dia malah lari menyelamatkan dirinya. Padahal dia tahu jelas panggilannya. Kemarin Elia kuat dalam iman, tidak takut kepada manusia maupun setan; hari ini gemetar di hadapan seorang perempuan, sangat sedih dan putus asa. Orang yang stress dan tidak mencari Allah, akan semakin parah stressnya.
Stres Elia diperparah dengan fisik yang lemah. Dia harus lari sejauh 150 km ditambah lagi sehari perjalanan di padang gurun. Kita tidak tahu apa dia benar-benar lari atau naik keledai, kuda atau unta, tetapi yang jelas, naik keledai pun untuk 150 km pun itu sudah sangat melelahkan. Elia kurang makan dan istirahat. Fisik bisa memengaruhi jiwa, dan begitu juga sebaliknya. Ada jiwa yang sehat di dalam tubuh yang sehat. Tetapi juga ada tubuh yang sehat karena jiwa yang sehat. Kita tidak tahu bagaimana keduanya itu bisa saling berhubungan. Tetapi lebih baik kita melihat bahwa manusia satu kesatuan. Manusia jasmani saya tidak bisa dipisahkan dari manusia rohani saya. Itu sebabnya, kita disuruh untuk mempersembahkan bukan hanya manusia rohani kita, tetapi juga tubuh kita. Ini berarti kita harus memperhatikan dengan sungguh-sungguh kesehatan kita, dan mengabaikannya berarti dosa.

Akhirnya Elia yang depresi meminta mati. Tindakannya sangat kontradiktif. Sebelumnya ia lari untuk menyelamatkan nyawanya, sekarang mengapa ia meminta mati? Bukankah kalau ia mau mati, tidak perlu melarikan diri dari pedang Izebel? Kini dia minta supaya pedang Tuhan mengambil nyawanya.

Orang yang stress, jika tidak ditangani, akan berkembang menjadi depresi. Dan depresi yang berat akan membuat orang ingin mati bahkan bunuh diri. Seorang yang depresi biasanya merasa tidak berguna dan tidak berdaya. Karena itu Elia berkata, “Sebab aku ini tidak lebih baik daripada nenek moyangku.” Bisa jadi, pernyataan ini juga merupakan dosa yang terselubung dalam hati Elia. Mungkin Elia telah menjadi sombong karena dia telah menumpas 450 nabi Baal. Mungkin dia merasa tidak ada nabi seperti dia yang dengan berani bekerja bagi Allah, menumpas seluruh musuh Allah, menegakkan hukum Taurat dengan sungguh-sungguh.

Tetapi kemudian, dalam kelemahannya, dia menyadari bahwa dia bukan siapa-siapa dan tidak bisa apa-apa. Dia memang bisa menghabisi nabi Baal, tetapi dia tidak bisa menghabisi pemimpin nabi Baal yaitu Izebel. Bahkan dia sedang dikejar-kejar. Allah selalu bisa mendatangkan kebaikan dari keadaan yang paling buruk. Elia belajar untuk merendahkan hatinya di hadapan Allah. Mengakui bahwa dia tidak lebih baik, lebih benar, lebih kuat.

Tidak ada seorang pun yang bisa berkata, bahwa dia kuat, benar, dan pasti bisa bertahan. Apalagi jika diberi kata paling: saya paling kuat, paling benar, paling sabar. Orang yang paling kuat pun, hamba Tuhan yang dipakai paling luar biasa pun, bisa jatuh dalam sekejab. Hamba Tuhan yang melayani seperti Elia ini saja bisa jatuh, apalagi yang tidak mau melayani, yang lebih suka nongkrong menggosipkan tetangga. Hamba Tuhan saja bisa jatuh, apalagi para pemuda pemudi, jangan berkata, saya kuat, saya tidak mungkin jatuh dalam perzinahan.

Setiap orang mesti berhati-hati. Setiap orang mesti mawas diri. Setiap orang mesti belajar untuk tidak mudah menghakimi, karena dia bisa juga jatuh di jurang yang sama. Kalaupun dia tidak jatuh di jurang itu, banyak jurang lainnya di mana dia bisa jatuh.

Tetapi Allah kita tidak abai. Dia tidak tinggal diam. Dia bukan Allah yang tidak mengambil tindakan. Dia itu Bapa kita. Dia mengasihi anak-anak-Nya dalam keadaan apapun. Dia tidak pernah meninggalkan anak-anak-Nya. Kasih-Nya, kesabaran-Nya, kesetiaan-Nya tidak bergantung pada kita. Dia mengasihi sesuai kerelaan kehendak-Nya.
Ia menunjukkan kesabaran dan kasih kepada Elia sehingga akhirnya Dia tetap berbicara kepada Elia, dan kita tahu semua bagaimana Allah mengangkat Elia hidup-hidup ke Surga. Tidak ada manusia yang sempurna. Dari kisah Elia ini, kita melihat betapa besarnya kasih karunia Allah itu. kita bisa berbesar hati, karena di dalam kelemahan, keterpurukan, keputusasaan, dosa-dosa kita, Allah selalu siap menolong dan mengangkat kita dari lembah kekelaman. Elia yang tidak sempurna itu pun masih tetap dikasihi, dipelihara, dan diangkat ke Surga. Demikian juga ketika Allah menyelamatkan kita melalui Yesus Kristus. Semuanya itu karena kasih karunia, bukan karena amal dan perbuatan kita.

Ini bukan berarti bahwa kita boleh mempermainkan Allah karena kita tidak sempurna dan karena kasih karunia Allah begitu besar bagi kita. Tetapi justru kita menyadari bahwa karena kita tidak sempurna, kita selalu membutuhkan Dia setiap saat. Kita perlu terus bersandar kepada Allah untuk mendapatkan kekuatan di saat kita lemah, berbeban berat, dan putus asa. Tidak ada apapun yang bisa dan boleh kita andalkan selain Allah. Kita perlu rajin mencari Allah. Pemazmur mengatakan “Hanya dekat Allah saja, aku merasa tenang. Daripada-Nyalah keselamatanku, Dialah gunung batu dan kekuatanku.” Amin.

  • Share/Bookmark

Leave a Reply