Single post

Allah Melanggar Hukum Keenam?

Perintah keenam berbunyi “Jangan membunuh.” Orang Ateis beranggapan bahwa Allah melanggar perintah-Nya sendiri ketika memerintahkan pemusnahan seluruh kota, hanya agar orang Yahudi memiliki tanah air di Kanaan.

Dalam bahasa Ibrani, sebagai bahasa asli Alkitab Perjanjian Lama, ada kata-kata yang berbeda untuk pembunuhan yang disengaja dan tidak disengaja. Ayat yang diterjemahkan “Jangan membunuh” berasal dari kata ratsach yang berarti pembunuhan yang disengaja dan tanpa sebab. Hukum Ibrani mengakui pembunuhan yang tidak disengaja (Ibrani: nakah) dan ini tidak bisa dihukum, sehingga dibuatlah kota-kota perlindungan.

Jika Allah dikatakan melanggar hukum-Nya sendiri maka itu bisa dilakukan dengan dua cara yaitu Dia melakukan pembunuhan secara langsung tanpa sebab dan memerintahkan atau berpartisipasi dalam pembunuhan orang tak bersalah.
Menurut Alkitab, Allah membunuh semua manusia kecuali Nuh, istri, anak-anak, dan menantunya dengan air bah. Mereka tidak dibunuh secara semena-mena. Sebaliknya, mereka dibunuh karena telah sedemikian jahatnya, kecuali Nuh dan keluarganya yang mengikuti kehendak Allah. Jadi Alkitab menunjukkan tidak ada orang yang tak bersalah yang dibunuh dalam air bah. Maka Allah tidak bersalah ketika menghukum mati manusia karena mereka memang bersalah dan layak dihukum mati.

Bagaimana ketika Allah menyuruh Yosua dan bangsa Israel membunuh semua orang di Kanaan? Orang-orang tersebut bukan “tidak bersalah.” Ulangan 9:5 mengatakan bahwa Allah melenyapkan mereka karena “kefasikan bangsa-bangsa itulah, TUHAN, Allahmu, menghalau mereka dari hadapanmu”. Kefasikan itu berupa apa saja? Kita baca dalam Ulangan 12:31: “segala yang menjadi kekejian bagi TUHAN, apa yang dibenci-Nya, itulah yang dilakukan mereka bagi allah mereka; bahkan anak-anaknya lelaki dan anak-anaknya perempuan dibakar mereka dengan api bagi allah mereka”. (Baca: Apakah Allah Kejam?)

Ketika Allah membunuh manusia secara langsung (seperti dalam peristiwa air bah) ataupun menyuruh Yosua dan bangsa Israel membasmi penduduk Kanaan, maka Dia bertindak seperti hakim. Pembunuhan atau bisa disebut hukuman mati juga bisa diperintahkan oleh seorang hakim, dan hakim tersebut juga tidak bisa dihukum karena perintahnya. Tentu hakim memiliki wewenang untuk menjatuhkan hukuman. Hakim juga tidak sembarangan menghukum, tetapi memiliki tujuan, sehingga dia tidak bisa dikategorikan membunuh tanpa sebab ketika menjatuhkan hukuman mati. Hakim hanya menghukum mati ketika kesalahan orang tersebut pantas untuk diganjar hukuman mati. Jadi dalam hal ini, Allah tidak melanggar hukum-Nya sama sekali ketika memerintahkan untuk bangsa Israel untuk membunuh bangsa-bangsa Kanaan.

Disadur dari: Thou Shall Not Kill: Does God Violate His Own Commandment?

5 total views, 1 views today

Share

LEAVE A COMMENT

support by Masuk Sini